ps: tulisan ini terinspirasi karena sahabat saya, BUBBA, yang diawal2 saya ngeblog, benar2 mensupport saya untuk kembali menulis, hari ini harus kehilangan ayahandanya tercinta. Tidak ada kata yang layak saya ucapkan selain TURUT BERDUKA CITA yang sedalam-dalamnya bubba, semoga arwah almarhum diterima disisinya, dan keluarga, mama, adik-adik, kakak loe dan seluruh keluarga yang ditinggalkan, diberi ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi kehilangan ini. Amien.
Yang Tabah ya bub…
Sekarang ijinkan saya curhat juga tentang rasa hehilangan itu…
***
Dear friend,
Setelah sedikit bangun dari kegundahan hati [akibat mama saya yang mendadak kondisinya drop, menyaksikan sahabat dekatnya, disamping bednya, meninggal pada saat sedang Cuci Darah (HD) ], akhirnya saya mencoba untuk menulis, nyalain komputer Anya, mencoba menulis sesuatu… tapi hati ini terlalu sesak untuk menulis…
Kenapa???….
Karna Pagi itu, saya tahu2 dpt telp, ngabarin kalo Ibu saya drop kondisinya, karna sahabatnya… kawan sependerita gagal ginjal, yang sering dia bawain makanan tiap kali menjalani proses cuci darah ini, meninggal.
Ya, Ibu saya dan sahabat2 sesama pasien cuci darah, sudah sangat dekat satu sama lain. Gak heran sih kalau mereka semua udah kek sodara, maklum bokkk, proses HD ini kan memakan waktu 4 (EMPAT) JAM… Gila… EMPAT JAM lohh, dan selama itu mereka melihat darah keluar dari paha mereka, lalu dialirkan ke dalam mesin Hemodialisa, lalu kembali ke tubuh mereka melalui urat nadi di tangan..!!! Dan itu merupakan proses yang sangat menyakitkan.

Ibu saya beruntung, karena ditangannya sudah dipasang NADI BUATAN (Cemino), yang membantu sehingga pemasangan jarum untuk selang cuci darah ini menjadi tidak terlalu menyakitkan. Jarumnya, kalo anda mau tahu, segede tinta PILOT… segede itu ditusukkan kenadi, kebayang gak sakitnya… uuuggghhh…

Tetapi EMPAT JAM menghabiskan waktu ditempat tidur, jelas sangat menjemukan, makanya mereka mencoba bercakap2 sesama penderita, terkadang berbagi makanan, sampai akhirnya keakraban diantara mereka semakin terjalin sebagaimana layaknya sebuah keluarga.
Mereka juga saling berbagi cerita suka duka penyakit mereka, sampai akhirnya ketika SATU PERSATU pergi meninggalkan mereka, ada duka yang dalam yang menyelimuti tiap orang yang ada disana… karna yang terpikir kemudian adalah:
“HARI INI DIA, BESOK MUNGKIN AKU…” atau
“HARI INI DIA YANG DIPANGGIL, GILIRANKU KAPAN YAHHH…”
Sayangnya, ibu saya bukan orang yang SANGAT KUAT untuk bisa menghadapi kenyataan. Ya iyalah bokkk, mungkin sayapun juga akan sama seperti dia ketika seminggu yang lalu teman di bed no B-5 meninggal, hari ini teman yg di bed no. A-17, meninggal juga… padahal mereka hanya GAGAL GINJAL… bagaimana dengan yang komplikasi dengan KANKER USUS seperti ibu saya.. Ini yang bikin dia drop.

Tiap habis cuci darah, ibu saya lemes, pulang2 pasti gak bisa ngobrol, lelah banget, kadang disertai pusing kepala yang luar biasa, bahkan muntah-muntah. Dan itu memang reaksi yang wajar dan umumnya dialami oleh semua org yang mengalami cuci darah.
Tapi kalo ada yang meninggal, pulang2 ibu saya pasti menangis terus seharian… Ketakutan karena merasa dia mungkin akan “pergi” juga detik itu juga. Dan itu membawa duka yang dalam buat kami semua.
Kehilangan mungkin kami semua udah siap… Tapi yang tidak siap adalah melihat dia begitu ketakutan, melepaskannya pergi dalam keadaan ketakutan, sungguh sangat melukai hati kami.
Ahhh mama… Mama tahu gak???… Mama masih akan hidup 10 thn lagi. Percaya deh, aminkan apa yang udah Tuhan janjikan buat mama ketika berdoa dulu,
“Telah kulihat air matamu, dan telah kudengar doa-doamu, dan ketahuilah, aku akan memperpanjang umurmu 15 tahun lagi”
Semoga mama selalu yakin itu, (walaupun saya sendiri tidak tahu masih berapa lama waktu yang Tuhan kasih buat mama)
Tuhan, kalo boleh memohon,… ijinkan saya menyaksikan mama tersenyum melihat saya sudah berhasil meraih mimpi saya yang sempat tertunda… Menjadi PENULIS yang BAIK, yang selalu berusaha menebarkan aura positive, aura KASIH kepada siapa saja yang mampir kerumah sederhana ini…
Be strong ya ma,… dikittt lagi ma… saya pasti berhasil. Saya ingin mama bangga pada saya, anakmu yang bandel ini. Ya ma yaaa… yang kuat yahhh…
God, PLEASE, saya mohon… kasih saya kesempatan untuk bahagiain ibu saya… walaupun hanya sebentuk buku sederhana, yang bagi orang lain mungkin tidak berharga sama sekali… tapi buat saya dan mama, ini adalah mimpi yang tertunda..
Terima kasih Tuhan, saya yakin Tuhan pasti mau dengar doa saya… Untuk panjangkan usia mama saya…
(maafkan saya untuk curhat colongan ini, tidak bermaksud untuk eksploiler masalah pribadi, tapi ini terlalu nyesakkin dada kalo gak di keluarin, maaf banget…. semoga dimaklumin.)