Complain: A Chance for Stepping Stone, or Suicide?

Hai semua… Apa khabar? 

Aih, rada biasssaaa banget pertanyaaannya yah. Kurang greget gituh. Wokeh, gini aja nanyanya… Kalian ada yang lagi kecewa ama salah satu produsen atau penyedia jasa gak? Kalo iya,… yukkk, gabung sini yuk, kita kupas abis sama-sama…  :D

Btw, semoga kalian semua kabarnya baik-baik aja yah. Kangen! *I mean it* J

Sebetulnya saya masih sedang istirahat untuk pemulihan, setelah bolak balik keluar masuk UGD dan sempat mengalami insiden jari yang kepotong*gak sengaja pastinya, masa iya sih sengaja, emang sini sinting?, hehehe*…  Namun karena ada saya pikir ini cukup mendesak untuk saya tulis, maka tiap kali ada waktu, saya bangun dan menulis sedikit, lalu tidur lagi. Artikel ini sudah saya tulis 3 hari yang lalu, semoga hari ini bisa selesai.

Saya berharap ini bisa jadi bahan pembelajaran buat saya, juga mungkin saja buat kalian, para pengguna jasa yang mungkin mengalami kekecewaan atas pelayanan yang diterima, atau syukur-syukur bisa dijadikan pelajaran bagi para penyedia jasa/pelayanan dibidang apapun.

*Bela-belain deh nih, saya tulis artikel ini. Jadi kalo gak komen awas aja… Situ belum pernah bisulan di anu khan?, hahahaha, hushhh… dilarang ketawa kenceng-kenceng, nanti disangka orang gila loh* :P .

Anyway….

Menilik judulnya *cieh, bahasa gue, qiqiqiq*… pasti ada yang menduga kalau saya mo ngerumpiin tentang pelayanan salon kecantikan yang bersaing menawarkan paket-paket promo pada saya customernya, yang pernah saya tulis khan?.

Yak… kalian salah, karna kali ini saya tidak akan membicarakan mengenai persaingan bisnis antar house of spa itu. Juga bukan mengenai kualitas pelayanan Rumah Sakit yang beberapa hari ini justru berjasa buat saya. Yang saya ingin ulas disini adalah buruknya layanan purna jual (after sales service) dari perusahaan-perusahaan yang menjanjikan berjuta fasilitas layanan sekelas sorga *lebay*.

Sebelum memulai kotbah membosankan ini, saya mo tanya dong… “Siapa dari kalian yang baca artikel ini, yang belum pernah merasa dikecewakan sebagai konsumen. Coba ngacung!! (eh, huruf “u” jangan diganti “e” yah, nanti maknanya jadi kek langit dan bumi loh… :P ).

Kalo belum, selamat, anda termasuk salah satu dari sedikit orang yang cukup beruntung karena tidak pernah ngalamin perasaan pengen jambak-jambak rambut karena kecewa ama salah satu produk atau jasa layanan pelanggan.

Banyak perusahaan yang cuma mikirin gimana caranya supaya target penjualannya tercapai, setelah itu entah customernya puas atau malah kecewa dengan produknya, don’t care lah yawww… Kadang ada karyawan yang suka bilang gini,…   “Ihhh… itu khan bukan urusan gue kalee,.. yang penting kan target gue dah kecapai?. Urusan puas apa kagak mah urusan bagian lain, bukan gue!”.

Nah… kalo ada karyawannya yang kayak gini… I feel so so so so so sorry for the company that hired him then… Beneran!… Kesian banget perusahaan yang ngerekrut dia. Sorry if this sounds so rude, tapi menurut saya, mereka sudah salah rekrut orang kalo gitu.

Suka benci aja saya sama yang kayak gini nih.

Kadang marketingnya menggunakan segala cara plus janji-janji sorga, demi tercapainya target penjualan mereka. Yang penting jualan janji dulu, barang laku, abis perkara… Soal bukti??? Ahhh…, itu mah urusan nanti. Yang penting khan terget revenue terpenuhi. Mottonya seragam…

“KAMI MEMBERI BUKTI… BERUPA JANJI”

Tapi pernahkah mereka berfikir,… bagaimana jika ini terjadi pada salah satu dari anggota keluarga mereka, atau malah mereka sendiri yang kemudian menjadi “korban” dari janji-janji surga ini.

Terpikir kah berapa banyak yang harus customer korbankan untuk janji-janji sorga yang mereka tawarkan? Syukur2 kalo value dari produk yang kita beli itu memang sebanding ama duit yang udah kita keluarin… nah, klo enggak.. raja tega bin kejam nian itu namanya khan?

Contoh gini:

Sebetulnya kita (ah, lagi2 kita, saya aja deng, hehehe) gak butuh-butuh amat asuransi, tapi karena iming2 bakal dapat fasilitas Super duper VIP di RS A, B, C,… bisa dapet discount UP TO 90% di Outlet D,E,F (ingat yah, “up to” means can be only 2,5 % OFF, 5% aja gak nyampe, qiqiqiq… :P ),… atau bahkan katanya bisa menikmati fasilitas dicount gila-gilaan di hotel XYZ, wuihhh, sorga banget pokoknya.

Nah, saya yang notabene orang yang polos dan percaya bahwa kejujuran, loyality pada pekerjaan, dan kesadaran untuk menganggap pekerjaan itu ibadah, masih ada dimuka bumi ini *ah, dasar dodol, so silly* maka dengan mudah saya mengiyakan untuk membayar sejumlah uang yang kalo dipikir-pikir, nilainya cukup besar untuk ukuran kantong saya, tapi nilai manfaat dan nilai uangnya pada saat jatuh tempo, ternyata gak seberapa, due to inflation.

Begitu saya masuk RS misalnya, ternyata claimnya susyaaaahhhhnya minta ampunnnn. Mana kita lagi sakit… mesti nelepon mereka berkali-kali hanya untuk mengkonfirmasi kapan kita bisa meng-claim HAK kita…

Then, think about this :

… Berapa banyak WAKTU yang terbuang untuk sekedar meminta hak kita?

… Berapa banyak BIAYA pulsa yang dihabiskan untuk menelpon perusahaan penyedia jasa tsb, sementara telp kita di transfer ke sekian banyak orang, dan lagi2 kita harus menjelaskan complain kita…. which always end up without any solution. Kita cuma di-JANJI-in bakal dikonfirmasi beberapa hari kemudian. Lagi-lagi cuma JANJI doang, bukan bukti… cihhhh.

… Berapa banyak ENERGY yang terkuras habis untuk menahan emosi menghadapi perusahaan-perusahaan yang bebal kayak gini, yang karyawannya kadang tidak bisa berbuat apa-apa selain jawaban, “Maaf mbak, saya hanya karyawan… saya hanya menjalankan tugas“. Yeah, kalo dah dihadapkan sama “tameng” kek gini, saya dah nyerah deh, soalnya saya juga gak tega maksa-maksa mereka. Wong mereka juga gak punya wewenang untuk mutusin apapun, atau menyelesaikan ‘janji2 sorga’ yang sudah di sebar-sebarin seenak udelnya ama temen2 marketing mereka… Cihhhhhh.

Oleh karena itu, melalui tulisan ini, saya pengen menghimbau para pengusaha maupun perusahaan yang bergerak dibidang jasa/pelayanan. Tolong dipikirkan point-point diatas.

Sadar gak sih mereka, bahwa sebenarnya complain customer is a CHANCE! Kesempatan yang bisa mereka pakai sebagai stepping stone untuk berkembang menjadi lebih baik dan meninggalkan pesaing2 mereka yang tidak mau terbuka terhadap kritik, atau malah menjadikan complain ini sebagai ajang BUNUH DIRI.

*loh, kok bunuh diri toh mbak?*

Lah, iya donggg… Perusahaan, terutama yang bergerak dibidang jasa, bisa maju dan besar pasti karena pelanggan bukan?. Mo segede apapun modalnya, mo sekuat apapun “babe” yang ada dibelakang nya,… kalo gak ada customernya, atau customernya pada lari semua karena kecewa… karyawannya mo dikasih makan apa? Pengusahanya mo jadi sinterklas selamanya? Gih dah, hehehe… Kata gue sih ya gak mungkin juga khan? Jadi Perusahaan tidak bisa berkembang, tanpa memperdulikan keluhan atau kepuasan pelanggannya.

Keluhan pelanggan itu ibarat cermin untuk mematut diri, untuk memperbaiki layanan, dan menjadi lebih baik, lalu melesat menjadi yang terbaik.. diantara yang terbaik… Semakin banyak keluhan yang disikapi dengan tepat, semakin banyak stepping stone yang dilalui, saya yakin banget, perusahaan kayak gini sudah melakukan Quantum Leap, alias lompatan dasyat sekian langkah lebih jauh dibanding perusahaan sejenis lainnya.

Sebaliknya buat yang tidak peduli pada keluhan pelanggan, ohhh… tunggu aja,… Yakinlah, anda sedang menggali kubur anda sendiri. Jangan heran kalau usaha anda gak maju-maju, penjualan makin seret, dan lama-lama biaya produksi makin membengkak, gaji karyawan gak kebayar, produk gak laku, dan tanpa anda sadari, anda sedang menyiapkan tiang gantungan untuk perusahaan anda, which means, anda sedang akan menggantungkan nasib sekian ribu karyawan anda ditiang gantungan itu.

Makin bunuh diri lagi, kalo complain itu datang dari orang yang mulutnya ember bocor kayak diriku, hehehe. Nope, ini bukan ancaman. Ini hanya ungkapan hati dari customer yang ingin menikmati HAK atas apa yang sudah dibayarnya selama setahun, tapi setitikpun belum merasakan ‘nikmat’nya janji-janji sorga yang ditawarkan pada saya setahun yang lalu ketika marketingnya datang ke rumah saya dan menawarkan produk mereka.

So, wanna consider my complain as a Stepping Stone… or Suicide? It’s all up to you.

This is a CHANCE, and the CHOICE is yours.

Salam Hangat,

- Silly -

 

Tags: , , , , ,

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

19 Responses to “Complain: A Chance for Stepping Stone, or Suicide?”

  1. syn says:

    mom nulis lagii……
    ^___^

    *baca ah*

  2. syn says:

    hehehe tulisan yang powerfull seperti biasanya, sakit dan cuti ga mengurangi semangat si mbak satu ini.. mantaff!!!

    jadi soal asuransi neh?
    kayanya udah jadi cap banget deh dimana2 yang namanya asuransi ya gitu, seperti digambarkan diatas, diawali dengan jaim, dan diakhiri dengan susahnya klaim..
    sering dapet keluhan juga dari orang2 di kantor, tapi ya mo gemana lagi, beberapa sadar klo itu adalah hak (iya lah…udah bayar premi) tapi toh akhirnya harus sabar dan ngalah, karena mereka butuh dana bisa di cairkan, pengorbanan pulsa, keringet, waktu, dan hati pun terpaksa dijalani, ada yang salah dari perusahaan penyedia jasa ini? ada…
    gak profesional banget klo menurut saya…

    *emosi beralih sambil ingatan juga berjalan ke salah satu perusahaan penyedia jasa telekomunikasi…dengan brand color nya merah itu… masih pemegang market share terbesar sampe saat ini kali ya..dan menggaji pegawainya dengan royal..lah profitnya segede gaban..*

    tapi ternyata usia, pengalaman, pengetahuan, dan masukan bahkan caci dan makian pun gak bikin perusahaan gajah ini bercermin, yah silahkan ketik di om google dengan keyword “T#l%*m(#l” dan “lemot”….

    hasilnya bejibun, mulai dari keluhan biasa, spesial, istimewa, luar biasa, sarkas, hingga brutal….ada!

    aduh saya malah curhat….maaf mbak sil…
    udah ah…

    seneng bisa baca tulisan mbak sil lagi ..

    ^__^

  3. desty says:

    hmm.. ini ttg asuransi ato rumah sakit ya? hehe..

  4. Silly says:

    @Syn:

    Iya, posting ini untuk salah satu Travel Agent dan Asuransi terkemuka di negeri ini.

    Once I’ve reach my limit…. Saya akan tulis product mereka, lengkap dengan nama dan keluhan saya, yang tentu saja menyilet, as usual.

    Makanya gue bilang, mereka mo ambil ini sebagai stepping stone alias batu loncatan, atau sebagai ajang bunuh diri… it’s their choice.

    Mungkin mereka lupa, gak semua pelanggan puas dengan hanya sekedar diberi janji, tanpa solusi yang pasti.

    Saya padahal gak nuntut dikasih compliment lohhhh, saya cuma mo nuntut hak saya!!! Kalo ini gak bisa mereka penuhi… Well… it’s your choice then. I’ve warn you from the beginning about me as “ember bocor”, right? :D

    *gue gak ngomong ama lo syn… ngomong ama travel agent gue, duduls :) )*

  5. Silly says:

    @Desty:

    Yang diatas ini tentang asuransi des, kalo rumah sakit mah, as I mention on my email to BFL milis, mereka malah ngasih saya kamar super VVIP itu bukan? So, this is not about the hospital.

    Tapi yang mo saya point sebetulnya yang terakhir… dan ini saya tulis sambil menunggu solusi dari salah satu perusahaan penyedia layanan biro berjalanan. Kalo solusinya tidak menyenangkan saya… well… let see :D

    Tanpa bermaksud provokif, saya cuma minta hak saya kok, semoga bapak pimpinannya baca tulisan ini. :)

  6. syn says:

    pesan saya buat perusahaan itu…

    YOU DONT WANNA MESS UP WITH THIS “EMBER” DEH…!!!

    trust me!

    *…kebeneran semalam saya baru baca tentang “ko-past” yang melegenda itu… ^___^*

  7. wongiseng says:

    Saya cuman mau komen karena takut bisulan di anu :) ) Kayanya memang mbak Silly selalu mulai dengan prasangka baik terhadap apa yang ditawarkan oleh perusahaan jasa atau orang-orang yg baru dikenal, mestinya memang situ hidup di dunia yang ideal, di mana ndak ada perusahaan asuransi yang sekedar mengejar target jumlah pelangggan tapi menghindari klaim :P

    All the best deh mbak, kalau sampai mau nulis nama perusahaannya, konsultasi dulu sama lawyer dan pendukungnya Prita :) . All the best *masih geleng-geleng liat komen panjangnya @syn, bisa serius juga ini bocah :) )*

  8. Embun says:

    Udah pernah baca ilustrasi ‘Ilusi Finansial’ dari Priyadi… cukup gamblang itu, bisa bikin kita hati-hati dan kebetulan artikel tersebut dicounter sama orang-orang yg notabene dari asuransi besar karena takut ketahuan belangnya (*punya belang gak ya*)

    BtW, maksudnya stepping stone apaan sih?? stepping= melangkah, stone=batu…emangnya kalau kita melangkah harus bawa-bawa batu… gitu kah??

    Cepat sembuh ya mbakyu..! (*tua’an siapa sih?*)

    Aku kasih resep obat yg manjur:
    1. Yer 29:11 diminum 2x sehari sesudah bangun tidur.
    2. Yoh 14:13-14 cukup 1x sebelum tidur.
    3. I Petrus 5:7 lebih banyak lebih baik karena ini vitamin.

  9. Chic says:

    saya biasanya ngomong gini Mbak; “Maaf ya Mbak/Mas, tapi ini cara klaimnta gimana ya? Kalo cuma telfan-telfon ngga jelas kapan duit saya keluar mah mending ngga usah deh nawarin saya. Saya sudah kapok, dan sudah ngga percaya. Kecuali perusahan Mbak/Mas bisa memberikan cara baru yang lebih mudah buat saya nge-klaim.”

    kata-kata ini ampuh Mbak untuk mengusir para sales itu dari telfan-telfon tiap hari. :lol:

  10. AngelNdutz says:

    woh,bener itu mbak…kasus² yang sering muncul di surat pembaca di koran2 itu emang kek gitu, sulitnya claim ke asuransi. jangankan ke asuransi claim ke perusahaan ajah susahnya minta ampun, musti nunggu berbulan-bulan :|

  11. adipati kademangan says:

    saya komen karena takut bisulan
    Ayo mbak, kerahkan semua teman-teman untuk nglurug tempat itu, biar mereka tanggung jawab terhadap janji-janji mereka

  12. queen says:

    hehe serius ini yak bahasnnya,,

  13. mimi says:

    glad to see u again mba… :)
    menurut aku ini gak hanya berlaku buat perusahaan jasa aja mba…tapi buat semua perusahaan yang masih membutuhkan konsumen untuk menghidupi laju usahanya…karena sekarang semua usaha berfokus pada kepuasan konsumen..kalo mereka tidak peduli akan konsumen apalagi konsumen yang sudah mengajukan keluhan, berarti memang mereka pengen bangkrut ato ‘bunuh diri’
    *ikutan sebel saya bacanya mba*

  14. linaling says:

    hai mbak…!!!!
    Menyebalkan memang, saat apa yang dikatakan jauh dari kenyataan. apalagi dengan prosedur komplain yang ribet bin ruwet.
    eniwei, itu jari kepotong ? oughhh. terus ???

  15. Aubrey.ade says:

    yaaaaaaach, baru baca hari enih…pantes kemaren kok di-anu rada2 mau bisul gth, mumpung blom jadi, komen ah, sekarang…hihihi :D

    Kl utk asuransi, sih blm pernah klaim **berdoa semoga yg skrg gw ikutin gak minta macem2 pas klaim** :D

    Tapi kalau utk layanan lain, pernah and sering juga kayaknya – alat tredmil, trus yg masih anget, layanan tipi kabel…doh!duit saya ketahan udah ampir setaooooon disanaaa :( ( :( ( aseli capek banget nelponinnya…mana jawaban si mba2 itu standar semua, udh keik robot.

    enw, mba-kalu mau nybut merk, ati2 yo, konsul sana sini dulu ah, takut kyk bu prita…(jangan sampe deh)

    Mba cepet pulih ya…all the best wishes for you…muach!! :)

  16. Ly says:

    mohon maaf, itu asuransi apa ya..?
    Kalo harus japri, tolong deh balas via e-mail saya..
    makasih, Syl…

    salam
    Ly

  17. Truden says:

    Hi, Interesting, did you plan to continue this article?
    Truden

  18. zulhaq says:

    Memberi bukti dalam bentuk janji. Cocok banget tuh buat para pengumbar kebohongan yang sudah mulai melupakan rasa perikemanusiaan!!!

    Demi kepentingan mereka, rela melakukan apapun yg sering merugikan orang lain, bahkan bisa membunuh secara perlahan he2..

    Ada pengalaman temen saya, mobilnya dia di asuransikan, dengan asuransi all risk. Karena djanjikan, semua kerusakan, entah sekecil apapun, aka dganti dan dlayani dengan cepat dan tepat.

    Pas ada kejadian, mobilnya dtabrak. Di uruslah asuransinya. Busyeeet dah, ribetnya minta ampuun. Susah bgt baru bisa cair. Padahal bayaran perbulannya cukup mahal

  19. Ria says:

    Mbak coba baca postingan terbaruku…
    aku juga sedang merasa kecewa dengan suatu jasa pengiriman
    hiks :(
    udah rugi duit, waktu, batin pula karena harus marah2…menyebalkan :(

Leave a Reply