PEMULUNG JALAN KAKI UTK MENGUBURKAN ANAKNYA…

PS: Ini sebagai bahan renungan, supaya kita berkaca…. keluar dan kedalam…
Keluar, bahwa masih banyak orang diluar sana yang bernasib seperti khairunnisa ini…
Kedalam,… mari kita tanya hati kita… lepaskan semua atribut apapun yang melekat pada tubuh kita, lalu bertanya… apakah kita peduli pada sekeliling kita… tetangga kita… atau siapapun yang ada disekitar kita… yang butuh pertolongan kita…

Mari, sisakan waktu anda sedikit saja… kita flash back keperistiwa2 menyedihkan yang beberapa waktu lalu terjadi dinegri ini.

*****

Note: Dikopas sepenuhnya tanpa diedit sedikit pun dari tumblr seorang kawan. Sekadar berbagi…

Artikel ini gue copy paste dari facebook notesnya adik gue. Enggak cuman liat ke atas, sekali-kali kita juga harus liat ke bawah untuk bercermin.

Bahkan saat kita perlu untuk bersyukur.

PEMULUNG NAIK KRL UNTUK MENGUBUR ANAKNYA
Salemba, Warta Kota

PEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah. Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta – Bogor pun geger Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn). Supriono akan memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL.

Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.

Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke Puskesmas Kecamatan Setiabudi. “Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari,” ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di Cikini itu. Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.

Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00. Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak Musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.

Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet. Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun.

Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono langsung berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam.

Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan. Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang terbujur kaku.

Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya.

Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor. Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan.

Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama. “Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa. Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia,” ujarnya.

Koordinator Urban Poor Consortium, Wardah Hafidz, mengatakan peristiwa itu seharusnya tidak terjadi jika pemerintah memberikan pelayanan kesehatan bagi orang yang tidak mampu. Yang terjadi selama ini, pemerintah hanya memerangi kemiskinan, tidak mengurusi orang miskin kata Wardah.

*****

Tags: , , , , , , , , , ,

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

9 Responses to “PEMULUNG JALAN KAKI UTK MENGUBURKAN ANAKNYA…”

  1. [...] Bukalah mata kalian lebar-lebar… Lihat kami disini pak, ibu… lihat… Bahkan untuk menguburkan anak kami saja, kami tidak sanggup….. *baca posting ini. [...]

  2. Hamster Copo says:

    Sungguh miris kisah yang dialami pak pemulung,,tapi aku lebih kasian sama kakak-nya karena dialah yang sering bermain bersama,,memungut sampah satu demi satu bersama..hingga ajal menjemputnya!! bahkan sang kakak masih ingin bermain sama adik meski sang adik sudah ada didunia yang lain..
    Itu membuktikan bahwa cinta sang kakak tidak pernah pupus dari adik,,hanya sang adiklah yang bisa membuat kakak senang dan merasa bahagia!!mungkin dulu sebelum adik dilahirkan,,kakak ingin sekali menginginkan punya adik untuk diajak bermain dan doanyapun dikabulkan tapi itu tidak bertahan lama..sekarang kakak sendiri lagi enggak ada yang menemani dia bermain ‘lagi’.. kalau melihat itu semua aku teringat sama adikku sendiri huuh..huuh..huuh *menangis* (cup..cup..cup)

  3. Hamster Copo says:

    Maaf yaa neng!! karena komen diatas itu ada dua yang satu ada di “perempuan itu mahluk verba” hehe!! salah kirim maaf yaa hihihi

  4. Silly says:

    @hamster Copo:

    Haiiii, gpp… makasih banyak udah mampir dan baca blog ini yahhh, senang punya teman baru.

    Iya, miris sekali membaca cerita ini. Pemerintah selalu bilang sudah sukses mengentaskan kemiskinan… padahal kita aja yang kurang peduli. Kalau kita buka mata lebar-lebar… kita baru akan melihat, betapa yang seprti ini, ternyata masih banyak disekeliling kita

    Sudah saatnya kita makin peduli, dan bergandengan sama-sama, mencapai kehidupan yang lebih baik :)

  5. andyan says:

    mbak sil, what should i do?

  6. Ria says:

    hiks…aku pernah baca juga berita ini
    sedih ya mbak :(
    sebegitu tingginya jurang antara si kaya dan si miskin…

  7. wiwi says:

    sunguh terharu baca postingan ini….
    semoga kita(rakyat) masih punya hati nurani utk membantu sesama, pemerintah disadarkan untuk bekerja demi rakyat, bukannya malah sibuk bagi2 kekuasaan dan kekayaan….kalau masih bobrok spt skrg, entah apa jadinya bangsa ini 5 tahun lagi….

  8. warm says:

    saya juga posting ttg ini,
    menyedihkan, tragis,
    kurang ajar !

  9. agung says:

    sebenernya ini cerita lama taon lalu kalo ga salah ada yg posting di kaskus.us :) emang orang jaman sekarang udah banyak yg hilang rasa kepeduliannya terhadap sesama … semoga dengan ditulisnya artikel ini disini membuat hati2 mereka terbuka kembali…

Leave a Reply