Ok, dalam rangka hari AUTIS sedunia, 2 April…. Saya ingin menggugah anda semua…
Please… STOP MENGGUNAKAN KATA “AUTIS” DALAM BERCANDAAN ANDA SEHARI-HARI!!!
Dulu ketika memutuskan untuk menulis pada sillystupidlife… tidak pernah terpikir saya akan punya interaksi dengan dunia maya ini. Dunia dimana akhirnya saya menemukan banyak sekali sahabat
(Terima kasih sudah menerima saya menjadi sahabat kalian… I love you guys
)
Yang terbayang dulu hanya nyampah, nyampah dan nyampah…. Menumpahkan semua isi hati saya dan mengeluarkan semua uneg-uneg tanpa menyakiti hati orang-orang yang ada disekeliling saya.
Lalu lahirlah karakter silly,… yang mewakili seluruh rasa yang meluap dan ingin saya keluarkan dalam diri saya.
Let’s say,… Silly is a dark side of me… Dark Side of my character. Dan saya tidak pernah malu untuk mengakui ini…. As I know,… everybody has their own dark side character in their life.
BOONG AJA KALO ENGGAK… Kalo ada yang karakternya baek2 doang semua… saya sembah-sembah deh… Anda layak masuk surga!!!, hehehe…
Dan karena saya hanya ingin nyampah,… tapi tidak ingin diganggu oleh pria-pria hidung belang didunia blogoshpere… saya mencantumkan kalau saya ini thirthy something,… sudah menikah dan punya anak, bernama Anya… which is came from this words… ANak saYA… ANYA…
Kenapa saya menutupi identitas saya? Apa karena saya pengen keganjenan???… Hahaha… TIDAK sama sekali.
Gak ada! Tidak ada intensi apa-apa… Saya hanya ingin nyampah tanpa ada yang tahu siapa saya… Hanya ingin menumpahkan kekesalan saya pada hidup,… pada org-orang disekeliling saya,.. pernikahan saya yg very complicated,… kehidupan yang kadang tidak berpihak pada saya… dan pada kelelahan saya menghadapi buah hati saya,… yang memiliki kebutuhan khusus… AUTIS!!.
Mungkin bagi sebagian orang, tidak penting,… bahkan beberapa dari kalian menjadikannya sebagai bahan OLOK-OLOKAN dan BECANDAAN SESAMA BLOGGER… *pentung-pentung*
But by the time being,… everything changes….
Semakin lama… semakin banyak saya menumpahkan sampah-sampah hati saya… Semakin saya merasa… Walaupun ada banyak alasan untuk saya menangis,… Namun SELALU ADA SEJUTA ALASAN yang membuat bisa saya tersenyum dan mengucap syukur akan apa yang Tuhan hadirkan dalam hidup saya.
***
I. AWAL MENULIS
Diawal-awal saya tidak pernah mengakui kalau anak saya autistic. Yang saya tahu hanayalah membiarkan setan liar dalam diri saya menumpahkan semua sumpah serapah dalam hati saya melalui tulisan-tulisan saya. Saya tidak ingin nama saya didunia nyata, yang memang sudah banyak berkecimpung dibidang sosial menjadi rusak dan ternodai hanya karena emosi & nafsu liar sosok silly yang saya create.
Mari berkenalan dengan Sosok Silly…
Silly is a very independent woman, cerdas, tegas dan tahu betul apa yang dia mau. Tidak takut pada apapun, dan tidak suka bergantung pada siapapun.
Terkadang Silly memang berubah menjadi sosok manja… yang dulu sempat saya “bunuh” karena rasa marah saya pada kehidupan, pada orang tua saya…. Kedekatan saya kembali dengan papa membuat saya kembali menjadi seekor “Kitten”…. Anak kucing yang manja… yang akan sangat jarang sekali bahkan hampir tidak akan pernah anda temui ketika berhadapan dengan my real me…
(Bokkk… Gimana mo manja??,… mo saingan ama anak??, Ahakhakhakhakhakhakhakhakahakhak).
Dan kedekatan dengan papa saya melahirkan “kitten” itu kembali dalam diri saya.
Tapi entah kenapa,… mungkin karena kesintingan saya,… tahu-tahu tulisan-tulisan saya malah banyak yang baca. Dan semakin sering saya nyampah… semakin banyak yang ikutan ngakak guling-guling di blog ini, hahahahahhaha…
*pentung nihhhh,…. pentung nihhh*
![]()
***
II. STARTED TO ADMIT THAT MY KID HAS A SPECIAL NEEDS
Semakin banyaknya teman-teman yang membaca tulisan gila ini membuat saya mengurungkan niat untuk menulis dan mengakui kalau anak saya AUTISTIK… Terutama ketika membaca tulisan teman-teman blogger… yang dalam tiap KOPDAR selalu menuliskan tentang keriuhan mereka, namun disatu sisi tiap blogger selalu sibuk dengan laptop dan BB masing-masing.
Mereka mengolok-oloknya dengan menggunakan kata… BLOGGER AUTIS.
Hal yang cukup melukai hati saya sebetulnya… Hanya saja…. saya tidak ingin menghilangkan kesenangan teman-teman saya bercanda-canda dengan menyatakan perasaan saya… Saya lebih memilih untuk melupakan perasaan saya,… dan pura-pura ikut tertawa bersama sahabat saya… which is really hurt actually ![]()
Belakangan… Saya mulai menghentikan menulis hal-hal yang negatif… yang hanya berisi keluhan-keluhan saja… Saya mulai melihat anak saya, ANYA… sebagai ANUGRAH YANG TERINDAH… dan mulai menulis betapa saya cinta pada anak saya, pada semua anak-anak yang senasib dengan anak saya.
Saya lebih beruntung, karena Anya diberi TALENT yang luar biasa oleh TUHAN… diusia dini dia sudah pandai bermain PIANO… alat musik yang sangat saya sukai, dan bisa bikin saya termehek-mehek jika melihat orang bisa bermain piano.
Tapi bagaimana dengan orangtua lain yang anak autisnya lebih parah dari anak saya, yang tidak seberuntung Anya???
Dan ketika dikehidupan nyata… saya semakin hari semakin banyak berhadapan dengan anak-anak autistik… dan melihat betapa lelahnya orangtua mereka… STRUGGLING WITH THEIR AUTISM KIDS… maka sekaranglah saatnya saya bicara…
***
III.STOP MENGGUNAKAN KATA “AUTIS” DALAM BERCANDAAN ANDA SEHARI-HARI!!!
“LOHHH???… Kok gitu sih?, kenapa mesti dibawa-bawa perasaan sih sil?… Ahhhh, Silly gak asik nih,.. Gak asikkk banget anaknya. Gak open minded… I thought you’re smarter than that, Sil !!!”
Iya,… Mungkin ini yang akan kalian bilang ketika membaca ini,… Tapi ketika kalian semua tahu betapa sulitnya memiliki anak-anak autistik,… bagaimana setiap hari kami menangis membesarkan mereka… mungkin kalian semua akan berubah pikiran.
Saya tahu konsekwensinya, bahwa setelah ini mungkin ada beberapa teman yang tidak suka pada saya,… but I’ll take the risk…. Saya tahu kalian sahabat saya selama ini… jadi saya yakin kalian akan mengerti mengapa saya… BICARA.
Saya tidak suka ketika mendengar orang menggunakan kata-kata AUTIS dalam setiap olok-olokan sehari-hari…. STOP USING AUTIS ON YOUR DAILY JOKES
Coba inget-inget lagi dehhh….
Pernah nggak kita bercanda bilang,… “Ih, Gue asik banget sama iPod/BB/HP gue, berasa autis dehh”.
Pernah nggak, kita menegur teman yang tampak asyik sendiri dan bilang,… “Autis banget sih loe!!! Ngumpul bareng yang lain dong!!!!”
Pernah nggak, kita mendengar teman kita bercanda seperti itu dan kita ikut tertawa????
Setelah itu… Bayangkan ini…. Pernah nggak kita membayangkan,… Sebentaaar saja…. kita menjadi orangtua dari anak autistik….
Bayangkan bahwa berkomunikasi dengan anak yang menjadi curahan jiwa ternyata sangatlah sulit…
Kita tatap matanya dengan penuh cinta,… tapi dia tak membalas…
Kita peluk dia dengan penuh kasih sayang,… tetapi ia menghindar….
Kita ajari dia dengan kesungguhan yang penuh,… tapi ia malah mengacuhkan anda,… bahkan tidak peduli.
Kita jagai dia dengan penuh kehati-hatian… tetapi dia malah mencelakai dirinya sendiri dengan memotong tangannya, menyetrika jari jemarinya, bermain tanpa menyadari bahaya sehingga membuat dia terjatuh dan kepalanya bocor…
Pernah gak kita membayangkan… sebentarrrrr saja… menjadi orangtua dari anak atuistik…
Ketika kita bingung bagaimana menghadapi saat-saat dia mengamuk tanpa sebab yang jelas…
Memukul-mukul dadanya karena tidak tahu rasa apa yang ada didadanya… Yang dia tahu hanya dadanya sakit… dan dia berharap dengan memukul dadanya… rasa itu akan hilang???…
Pernahkah kita membayangkan rasanya ketika melihat anak kita memukul-mukul kepalanya ketika dia marah dan tidak tahu bagaimana mengontrol perasaannya sendiri…
Membenturkan kepalanya ketembok atau kelantai, karena dia tidak tahu apa yang membuat kepalanya sakit… Dia hanya berharap ketika membenturkan kepalanya ketembok… rasa sakit itu akan hilang….
Pernahkah kita tahu…. bagaimana rasanya ketika kita mencoba untuk memeluk dan menenangkannya… dia malah menggigit kita…???
Ketika kita anak-anak lain sudah bersekolah, anak kita bahkan belum bisa berkomunikasi sama sekali….
Lalu sekarang bayangkan,…. KITA,… melihat orang lain yang bercanda seperti tadi. Bagaimanakah rasanya?
Semoga Anda tergugah…. Stop bulliying our feelings, as a parents of autism child… by using our kids dissorder as your DAILY JOKES!!!
Ya, berhentilah “melukai” perasaan orangtua dari anak-anak autistik… dengan menggunakan kata-kata AUTIS sebagai bahan olok-olokan sehari-hari… They have struggling enough with their kids. Jangan lagi tidak peduli dengan melukai perasaan mereka, karena saya tahu… kita semua… anda dan saya… adalah… BLOGGER PEDULI.







Add some information about yourself here.
76 Comments so far
Leave a comment
duhh mba saya juga kadang nyebut kata itu buat ngatain temen lho , tapi setelah baca postingan ini saya janji ga bakalan keluarin kata2 itu lagi untuk bahan becandaan
nice posting aniwei , membuka mata orang yang awam , seperti saya
By naki on 04.01.09 8:55 am | Permalink
duhh mba saya juga kadang nyebut kata itu buat ngatain temen lho , tapi setelah baca postingan ini saya janji ga bakalan keluarin kata2 itu lagi untuk bahan becandaan
nice posting aniwei , membuka mata orang yang awam , seperti saya
By naki on 04.01.09 8:56 am | Permalink
indeed.
i’ll stop.
By contradictiveminds on 04.01.09 8:56 am | Permalink
setuju mba sil..setuju sekali…
tmn diruangan saya ada yg suka becanda begitu dan akhirnya kmrn saya kirimi mereka sebuah artikel ttg ini dan Alhamdulillah skrg tidak pernah lagi mereka becanda seperti itu…saya senang..:)
By neeta on 04.01.09 8:57 am | Permalink
I’ll stop…
Sorry….
By Galuh on 04.01.09 9:12 am | Permalink
butuh kekuatan, kberanian buat ngakuin punya anak autis. tapi itu kan juga bukan salah si anak, bukan juga salah si orang tua. justru dengan mengakuinya, pasti jauh membuat kita lebih lega, karna emang ga ada ga ada yg perlu ditutup²in juga. dan ga akan juga ada orang yang menghindari seseorang hanya karena punya anak autis. picik banget keknya.
aku juga punya anak kok , bisa ngarasain apa yg mba rasain juga
By ntieholic on 04.01.09 9:24 am | Permalink
duluuuuuu…..saya pernah (tidak sering) menggunakan kata itu..boong deh kalau bilang nggak pernah…tapi sejak saya baca blog ortu yang punya anak special needs (udah cukup lama juga)..saya berusaha untuk tidak menggunakan kata itu sama sekali.
aku link boleh ke blog-ku?….
By rinita on 04.01.09 9:28 am | Permalink
janji….abis baca ini nggak lagi pake isitilah itu, jadi keingetan sama bos ku sendiri yang juga punya anak dengan special needs seperti dirimu jeng… dan kembar pula… i fully respect semua orang tua yang punya anak dengan kebutuhan khusus termasuk dirimu…
By frozzy on 04.01.09 9:42 am | Permalink
Dari dulu pengen bales komen2 diposting yang ini, lupaaaaaaaa melulu (baca : gak pernah bisa focus)
—————————–
@naki :
Makasih naki
@contradictiveminds :
I appreciate that. thanks.
@neeta :
Makasih neeta… you did a great job.
@Galuh :
Thanks galuh.
@ntieholic :
Gak menghindari sih, tapi kemungkinan menghina seperti ini khan bisa terjadi. Dan saya dah terlalu irritated untuk terluka lagi.
But now I’m very proud to say, Anak saya autis.
@rinita :
Boleh say. Makasih ya say.
@frozzy :
Makasih frozzy
By Silly on 04.01.09 9:43 am | Permalink
i know how u feel dear…*hug silly*
By yantee on 04.01.09 9:44 am | Permalink
*peluk-peluk Mbak Silly*
>:D<
By Chic on 04.01.09 9:45 am | Permalink
waktu awal-awal saya juga risih dengan beberapa tulisan orang-orang yang mengaku dirinya autis. seiring waktu berjalan, tiba-tiba kata itu menjadi bahasa sehari-hari. bahkan saya sendiri mendapat gelar blogger autis. namun lama-lama saya jadi cuek dengan label tersebut.
kemudian ketika saya mendapatkan murid yang autis, beberapa teman tertawa. mereka mengira saya mendapat murid autis yang menurut mereka artinya cuek terhadap dunia sekitar karena sibuk dengan gadget atau dunianya sendiri. padahal pada faktanya, saya mendapat murid dengan kondisi di mana saya harus benar-benar membuat ia berkonsentrasi ketika berlatih piano.
satu bulan lebih telah berjalan, dan alhamdulillah murid saya sudah bisa membaca not, walaupun kalau ditanya, ia tidak mau menjawab. tapi buat saya, memberikan ilmu untuk anak yang memiliki kebutuhan khusus merupakan anugrah buat saya. bagaimana membuat ia memainkan 1 lagu utuh, adalah kebanggaan buat saya. *halah jadi curcol*
saya setuju banget dengan tulisan mbak silly. semoga semua orang terketuk pintu hatinya dan berusaha merubah kebiasaan buruk ini.
nice post.
By cK on 04.01.09 9:56 am | Permalink
I already stopped using the word, but I dont know how to make people stop. I know so many people reading this blog, you’ve made a change darling, I’m proud of you
By Shasya Pashatama on 04.01.09 10:09 am | Permalink
saya ngakuuu…. dulu sering banget pake kata ini…
tapi sejak baca tulisan ini saya sudah berhenti untuk memakai kata ini…. sumpah…..
By itikkecil on 04.01.09 10:26 am | Permalink
Hiks…. aku termasuk orang yang bercanda menggunakan kata itu. Padahal udal pernah baca di majalah tentang ortu yang protes kepada artis di TV yang menggunakan kata “autis” sebagai bahan candaan. Aku mikir, karena aku becandanya sama orang yang ga ada hubungannya dengan autism, berarti ga masalah.
Tapi, memang sebuah kekurangan nggak layak dijadiin bahan candaan. seperti mengatakan “mati aja lo!!” sebagai candaan, padahal kata2 itu kan sebenernya jahat dan nyumpahin orang untuk mati… mungkin sama jahatnya dengan ngatain orang “autis” ya.
Bersabar ya Mbak, semua akan indah pada waktunya.
By macangadungan on 04.01.09 11:22 am | Permalink
I never use that word as a Joke,
since for me that word definitely just feel ‘wrong’
Ngomong2 soal sisi-’Silly’, kalo dibaca yang dulu2 ama sekarang emang banyak berubah.. cuma nyentrik-nya itu kayaknya emang uda kronis hehe >_<
And.. re-quoting from old writing
By Eru on 04.01.09 11:41 am | Permalink
@yantee :
Peyuk-peyuk yantee juga
@Chic :
Makasih chic… *peluk juga*
@cK :
Ahhhh, cK… makasih yahhhh… *hugs*
@Shasya Pashatama :
Ahhh… I’m proud of you too my dear. Loe emak2 gaul yg keren
@itikkecil :
Hehehehehe… gapapa tik… itu khan dulu, sekarang udah enggak khan?
@macangadungan :
Makasih kalo udah stop make kata itu.
Anyway, saya juga selalu percaya kok, buahnya selalu manis
@Eru :
Eruuuuuuuuuuu… many thanks, especially for the nice quote. Makasih ya
By Silly on 04.01.09 11:45 am | Permalink
semoga bena diampuniii ahohohoho ..
untung udah ngga hihihi ..
By Benazio on 04.01.09 11:47 am | Permalink
siniiii…sinniii…peluk-peluk kitten…
sabar jeng…sabar…there are always secret and mysteri behind the great scenario..
By Arya on 04.01.09 12:18 pm | Permalink
Lama ga mampir ke sini, ga nyangka bakalan nangis lagi…
Beberapa hari yang lalu sempat marah dan nangis gara2 kuis di facebook: SEBERAPA AUTISNYA LO? dan saya marah2 di komen kuis itu…
Terima kasih mba Silly, mewakili semua ibu dan orang tua di dunia ini yang hatinya sungguh terluka melihat anaknya tidak tumbuh sebagaimana mestinya, tidak diterima teman2 sebayanya, di pandang aneh bahkan gila…
Saya tidak bisa menulis sebagus dan sedalam mba Silly, dan saya sangat bersyukur ada yang mewakili kita semua untuk berbicara kepada dunia:
PLEASE STOP USING “AUTIS” ON YOUR DAILY JOKE!
Salam hormat untuk mba Silly yang dengan sukses membuat saya termehek-nehek lagi , dan peluk cium buat Anya…You are not alone Honey…You are Blessed Child,,,
By madaff on 04.01.09 12:55 pm | Permalink
Mba Silly, saya numpang link ke face book saya yah tulisan mba Silly…
Luph u mba.
By madaff on 04.01.09 12:57 pm | Permalink
setuju..
saya juga tidak suka ketika ada orang menggunakan kata ‘autis’ sebagai bahan olokan…
By d3ptzz on 04.01.09 1:02 pm | Permalink
Kalo gw malah yang sering dijuluki autis sama orang=orang sil hehehe, dan ya, itu seringkali menyakiti perasaan. Tapi mungkin sakitnya gak sesakit perasaan lu ketika mendengar kata itu jadi olokan. Gw setuju sama lu. Stop using that word for bullying. But i guess not only that word, maybe we have to re-think, how words can be so powerfull to give some label, by that, we can use every words with full conciousness
By Popi on 04.01.09 1:14 pm | Permalink
beruntungnya dirimu mengetahui disorder ini sejak Anya kecil, saya baru tahu sulung saya menderita ADD 2 tahun lalu… nyesel banget rasanya, karena tidak pernah mengira itu suatu disorder. nyesel kedua, seperti kata pepatah, kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak. di sekolah anakku banyak menerima anak2 dengan kebutuhan khusus, anak2 lain diberi pemahaman bagaimana menghadapi dan membantu teman-temannya yang berkebutuhan khusus, bahkan anakku beberapa kali menjadi role modelnya anak2 tersebut, jadi kami mengetahui bagaimana kerasnya perjuangan anak2 dengan kebutuhan khusus itu berada di lingkungan umum. saat itu saya pun masih nggak ngeh dengan disorder sulung saya. thanks to autism jokes yang ternyata malah membuka mata saya akan kelebihan sulung saya itu. nggak ada yang perlu ditutupi kok, itu bukan hal yang memalukan, sama halnya dengan penyakit lainnya ….
*curcol bukan ya ini? … heheheh…*
By nengjeni on 04.01.09 2:29 pm | Permalink
Hi Silly,
Gw bisa ngerti upaya & susahnya sbg orang tua membesarkan anak yg menderita autisme. Temen gw disini anaknya juga Autistis. Salut banget dengan post yg ini….
By Lorraine on 04.01.09 2:44 pm | Permalink
@Benazio :
HAHAHAHAHAHHA… iya, saya ingat kamu menyebut diri kamu dulu “blogger autis”
Makasih udah stop menggunakannya yah
@Arya :
I know… and I always be grateful for that
@madaff :
SAma sama mbak, dirimu juga ibu yang hebat bukan???
@madaff :
Hiiii, apa khabar mbak. Udah lama gak mampir. Anaknya udah jauh lebih baik khan?
*hugsssssss*
Ohya, Silahkan di link… saya senang kok. Thanks ya
@d3ptzz :
Makasih kalo gitu
@Popi
Thanks pop… I know you know what I feel.
@nengjeni :
Lohhhh, neng jeni, anakmu juga autistik tohhh… WAhhhh, baru tahuuu… ahhh, sini… siniii… *pelukan*
@Lorraine :
Makasih yen… iya, menjadi org tua autistik sangat tidak gampang, dan saya berharap orang lain bisa melihat ini.
By Silly on 04.01.09 2:45 pm | Permalink
Kadang kita ngga sadar yah membiarkan diri kita menjadi bodoh atau terlihat bodoh dengan memperolok-olokan seseorang atau diperolok-olok oleh seseorang, dan semakin kita terlihat bodoh semakin banyak orang tertawa pada diri kita… tapi ironisnya kok kita malah suka terlihat bodoh…
Hmmm… Manusia
Gw sangat setuju dengan ajakan ini, secara umum mungkin ada baiknya kita mengajak diri kita masing-masing untuk tidak menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan perolok-olokan… yang kita belum tau pasti apakah dia bisa terima perolok-olokan itu atau tidak. Mis : “Heh, bencooong…” atau “Banci banget sih loe….”
Pernah denger satu lagu yang tenar banget pada masanya kan? “Becoooong juga manusia, punya rasa punya hati, jangan samakan dengan pisau belatiiii….”
By sintingmaut on 04.01.09 3:01 pm | Permalink
mbak silly… (cozy)
janji ndak akan becandaan pake istilah itu lagi… (girlkiss)
By dita_disini on 04.01.09 3:20 pm | Permalink
Silly… hendro terkesan dengan tulisanmu lagi… tulisan yang dalam mengenai perasaan akan selalu bisa menyentuh hati, tapi maafkan hendro karena mengkoreksi baris ini :
“Kita ajari dia dengan kesungguhan yang penuh,… tapi ia tak acuh, bahkan tidak peduli.”
seharusnya “tapi ia acuh”
semoga dalam bentuk apapun, kita bisa menjaga hati dan perasaan sahabat-sahabat kita, meski dalam canda
^_^
salam istimewa
hendro
By hendro on 04.01.09 4:12 pm | Permalink
Dear All,
Makasih udah mampir dan komen di posting ini… Maaf saya belum sempat balas, karena kesibukan saya untuk hal yang lain…
Silahakan mengcopi dan menyebarkan tulisan ini, saya tidak keberatan sama sekali. Untuk teman-teman yang kecewa akan tulisan saya… dan MENDELETE saya dari member FACEBOOK-nya… saya tidak keberatan.
Minta maaf jika anda keberatan dengan tulisan ini….
Untuk yang udah coment… makasih banget… terima kasih untuk peduli dan berjanji untuk tidak menggunakan kata AUTIS dalam becandaan sehari-hari… semoga saya tidak melukai perasaan anda
Ohya… Sekedar memperkenalkan BFL… ada tulisan ttg Situ Gintung disini.
http://bloodforlife.wordpress.com/2009/04/01/jangan-jadikan-musibah-sebagai-tontonan/
Dan buat teman2 yang care untuk membantu, silahkan salurkan sumbangan anda di kantor dagdigdug, jl. Langsat I/3A. Teman2 dari Blogger Peduli akan membantu menyalurkan kepada keluarga yang bener2 sangat membutuhkan.
Salam hangat,
Silly
By Silly on 04.01.09 5:53 pm | Permalink
Indeed…STOP !
By dony on 04.02.09 7:21 am | Permalink
mbak silly .. saya janji juga nih gak pake istilah autis ..
walaupun istilah ini tenar banget di kantor untuk “nyindir” teman2 yang emang cuek bebek dgn urusan pekerjaan ..
By titin on 04.02.09 3:23 pm | Permalink
aku pernah memakai kata ini terhadap seorang temen yang begitu bangga mengatakan diri nya autis…
bukan berarti aku ga tau apa yang kamu rasakan jeung..
krn bbrp temen ku juga mempunyai anak yang unik *aku menyebutnya unik*
dan aku juga tau gimana rasa nya hadapi anak unik ini, harus penuh kesabaran
namun di balik kekurangan mereka, pasti ada ke unikan yg tersimpan dan belum terasah. spt anya yg bisa maen piano… keep strong sil..
i wont use that word anymore…
By lia on 04.02.09 6:39 pm | Permalink
tulisan yang sangat bagus.
saya bisa ngerasain perasaan mbak, karena saya juga mempunyai anak penderita cp, dah umur 6 thn tapi cuma bisa tergolek saja.
moga tulisan ini bisa menyadarkan banyak orang.
trus tolong dong mbak buat tulisan tentang “tatapan aneh orang2″ maksudnya tatapan matanya yang ngeliat anak kita seakan makluk dari luar angkasa aja.
thanks.
By megawati on 04.02.09 9:43 pm | Permalink
@sintingmaut :
Setuju banget. Cuma gini say… dikalangan kalian juga mestinya harus rajin mengurangi pemakaian kata2 itu, misalnya, aku pernah baca becandaan kalian di blog kamu, dengan memanggil temanmu dengan sebutan, “Bukan begitu, cong?”
Kita berusaha… kamu juga bantu yah untuk mengurangi. karena biasanya istilah2 gaul yang dipake sekarang dan “happening” banget itu justru datangnya dari teman2 gay gue dear… hehehe…
Tapi gue sangat setuju bahwa kekurangan orang lain tidak layak untuk dijadikan bahan olok-olokan.
@dita_disini :
Makasih dita… (cozy)
@hendro
Dear hendro, mas pasti suka nonton acaranya Mario Teguh yahhh… Iya salam istimewa, trima aksih koreksinya, udah dibenerin tuh
Makasih yahhhh.
@dony :
Yes, Indeed
@titin :
Saya tahu… untuk itulah posting ini dibuat.
@lia :
Aduh makasih kalau mau mengerti. Iya, kami juga menyebutnya dengan anak yang “unik” atau kadang anak dengan Special Needs… diluar mereka menyebunya dengan Special Needs Children.
Makasih ya lia
@megawati :
Ahhhh… mbak megaaaa…. (hugsssssssss)
Saya tahu tugasmu lebih berat dari saya. Be strong always yah. Anak CP pasti lebih berat, dan semoga mbak mega selalu bisa melewatinya dengan senyuman.
Peluk sayang saya untuk anaknya ya mbak.
By Silly on 04.02.09 10:00 pm | Permalink
lirik komen saya di atas …
sepertinya sering error nih sil, ketika submit komen di blog mu …
eniwei…
stop using autis as daily jokes … start from now … start from us
By dony on 04.02.09 10:15 pm | Permalink
Sil..
Aku bisa lihat tulisan yang ditulis dengan sepenuh hati di sini, dan penuh ekspresi (dihitung aja jumlah titik-titik dan huruf kapitalnya hehehe)
Iya bener yang kamu bilang. Setujuu…
By Yoga on 04.02.09 11:42 pm | Permalink
autis dan bukan autis bagi saya tidak ada bedanya, karena autis adalah sebuah karunia
By artikel kesehatan on 04.03.09 1:07 am | Permalink
Janji nggak akan pakai kata ini buat becandaan. (cozy) (girlkiss)
By merahitam on 04.03.09 3:12 am | Permalink
ahhhhh alhamdulillah aku gak pernah pake kata ini silly….paling2 gw bilang apatis…..i know how u feel dear….*HUGS*
By novnov on 04.03.09 7:37 am | Permalink
Siap bu komandan!!!janji gak bkal becanda kayak begonoh lagi deh…
By itong on 04.03.09 1:25 pm | Permalink
wish u all the best.
By dodywae on 04.03.09 4:44 pm | Permalink
siap mbak! g abakal make kata2 itu buat becandaan
By dilla on 04.03.09 4:45 pm | Permalink
baiklah..saya juga peduli kok :p
salam kenal..
By Fickry on 04.03.09 4:46 pm | Permalink
Aku jg punya sepupu yg anaknya autis. Bahkan sepupuku itu adalah ibu yg single parent. Jd bisa kebayang kan beratnya beliau dlm mengasuh anaknya? Dulu awal2 sempet beberapa kali negor temen2 yg becandaan pake kata “autis” atau merasa diri mereka “autis”. Tp lama2 malah sepertinya jd biasa aja orang2 becanda pake kata itu? Jujur, aku jg sempet jd ikut2an. But, I won’t… Ga akan lg pake kata itu karena dr awal jg ngerasa itu ga pantas dijadiin bahan becandaan.
By Juminten on 04.03.09 4:47 pm | Permalink
@dony :
Iya don, saya juga gak tahu kenapa… mungkin keberatan. maksudnya dah terlalu banyak space bandwidth yang kepake
Makasih ya don.
@Yoga :
Hahahahaha… iya setuju, ehhh, emang sepenuh hati itu bergantung sama jumlah titik-titiknya yah?
@artikel kesehatan :
Iya, sayangnya orang tidak menganggap itu karunia, tetapi istilah lucu dan seru untuk dijadikan bahan tertawaan dengan teman2
@merahitam :
Makasih dear… (girlkiss) too
@novnov :
Makasih ya bu… eh, apa khabar nih
@itong :
Bagooooossssssssss
@dodywae :
Lahhhh, kayak ucapan selamat ulang tahun sih???
@dilla :
Hehehehehe… good dilla
@Fickry :
Salam kenal juga… makasih fikry.
@Juminten :
Ahhhh, makasih nike… seneng mendengar makin banyak orang yang tahu perasaan kami…. *hugs*
By Silly on 04.03.09 4:48 pm | Permalink
Sangat sependapat mbak! Sungguh saya juga acapkali berpikir hal yang sama. bagaimana seandainya salah satu dari rekan blogger kita mempunyai soudara atau bahkan putra/putri yang mempunyai kebutuhan khusus tapi malah mendengar kata autis dijadikan bahan bercandaan. Tentu perih rasanya
By -GoenRock- on 04.03.09 4:49 pm | Permalink
dulu sempat sering pake kata-kata ini, tapi sejak dikasih tau dan di marah-marahin sama banyak orang tentang pengertian autis ini akhirnya saat ini berhenti menggunakan istilah tersebut secara sembarangan.
By podelz on 04.03.09 4:52 pm | Permalink
syukur deh, saya nggak pernah pakai kata ‘Autis’ unutk mengolok-olok ataupun bahan candaan, bagi saya cukup bilang “kacang mahal, sekilo berapa sih” buat negur/ngejek/candain temen yang suka sibuk sendiri di tengah kelompok. Dan makasih infonya mbak
By rukia^^ on 04.03.09 7:09 pm | Permalink
hi silly …
it’s a long time not communicate with u
life goes on … mainkanlah peran yg sudah ditetapkan oleh sang sutradara …
By borsalino on 04.04.09 12:12 am | Permalink
Salib itu berat… tapi tetap harus sampai ke tempat tujuan.
Besok Minggu Palma, sambut the King.
Jadi nyampah disini boleh ya??? asyiikkk…
By Embun on 04.04.09 2:49 am | Permalink
menggunakan kekurangan orang sebagai bahan candaan memang gak ada bagus-bagusnya.
salut buat sampeyan yg berhasil menyadarkan beberapa gelintir manusia yang tersesat ke jalan yang salah
ok, mbak ..
By warm on 04.04.09 7:18 pm | Permalink
Silly……… *peluk-peluk sambil snif snif mata terharu*. Beneran terharu gw baca deskripsi loe ttg kita, kehidupan orang tua yang mempunyai anak autis.
Thank’s udah posting ttg ini ya Jenk. Mudah mudahan semakin banyak orang yang lebih peka, lebih peduli dan mengerti.
cheers,
dwi
By dwi on 04.04.09 9:26 pm | Permalink
Sill… you’re a blessed woman, proud to have a friend like you, dear..
Langsung postingan ini gw post di facebook profile gue…
By nadia febina on 04.06.09 12:31 am | Permalink
[...] Setelah acara penyerahan bantuan berupa alat2 musik selesai, kita kembali dijamu dengan kupat tahu!! Yay! makan bareng2, sambil nonton salah satu murid penderita down syndromme tampil membawakan tari jaipong. Memang bener mereka perlu banget bantuan berupa alat musik ini, karena musik yang katanya bahasa universal itu toh memang bisa dinikmati semua Sambil itu, kita juga ngobrol-ngobrol santai sama beberapa guru. Di SLB Banjaran ada beberapa murid penderita tuna rungu, tuna wicara, cacat fisik, down syndromme, dan autis. Serasa kembali diingatkan buat semua kita untuk nggak lagi becanda-becanda menggunakan kata “autis” atau asyik sendiri. Sadar kan, kita apalagi yang seringkali diem di balik monitor komputer, asyik sendiri. Belum lagi yang pake blackberry, asyik sendiri juga. Penggunaan kata autis rasanya udah terngiang dimana-mana, dalam becandaan sehari-hari tanpa kita sadar betapa beratnya kalau kita beneran menghadapi orang dekat kita yang autis. Makasih ya udah ngingetin Jeng Sil [...]
By Blogger Bandung ke SLB « Kata Shasya……. on 04.22.09 2:34 pm | Permalink
@-GoenRock- :
Jadi jangan dipake lagi ya gunnn… *pentung*
@podelz :
Thanks for undertanding our feelings.
@rukia^^:
Thankkkk youuuuuuuuu
@borsalino :
Iya, life goes on. Semoga kali ini saya dikasih peran yang lebih ringan.
@Embun :
Hehehehehe… kang karjoooo, kegereja nteu’ ????
@warm :
Thanks om warm.
@dwi
Hugggggggggggssssssssssss…
Ahhh, menjadi orang tua anak2 special ini bikin kita kaya yah… Kaya air mata… tapi juga kaya senyuman dan tawa haru.
Semoga orang tahu betapa tidak mudahnya kita menjalani ini semua, dan peka untuk tidak lagi menjadikan itu sebagai bahan olok-olokan dalam pergaulan sehari hari.
Salam sayang saya untuk Leon yah.
@nadia febina :
Ahhh, nadia cantik… makasih. You know I am so proud of you, as well… punya sahabat yang cerdas dan cantik sepertimu sangat menyenangkan. Wish oneday we can meet each other yah.
@Blogger Bandung ke SLB by Shasya……:
Dear, what you have doing there is very touchy and incredible.
Ahhh, bangga gue jadi temen loe shasya…
By Silly on 04.22.09 3:22 pm | Permalink
jujur ya, aku malah bercita2 untuk bisa bekerja sama dengan anak2 autis. untuk itulah aku berjuang dan bertahan hidup di negeri orang..demi mereka
ga cuma autis, tapi juga yang ADHD, dan mental challenge.. dan mba silly sayang, berbahagialah dan bersyukurlah karena mba memiliki seorang anak autis
tanya kenapa? penjelasannya kapan2 aja di privat..hehehhee..
By sherinesky on 05.08.09 2:31 am | Permalink
Dan tulisan saya yang ada kata-kata autisnya pun sudah saya ganti hihihihhi
By -Lie- on 05.14.09 1:33 pm | Permalink
[...] ‘nais inpo gan’ wkeekeke…. Stop Using The Word ‘Autis on Your Daily Jokes Time to Speak Out Word ‘autis’ in Your Daily [...]
By Tidak Perlu Kata ‘Autis’ untuk Tertawa, Menyindir atau Mencela « Rafizeldi’s Blog on 05.17.09 3:05 am | Permalink
@sherinesky :
Aduhhhh, terharu loh aku baca tulisanmu, dan link yang ada di blog kamu. Makasih ya dear. Kamu emang berhati mulia. Semoga ada banyak orang yang peduli seperti kamu…
Hugsssssssss. Thank yahhh. Sumpah terharu loh
@-Lie- :
Good. Makasih yahhh dear
@Rafizeldi’s :
Makasih banyak mas, untuk ikut mendukung gerakan ini.
Ahhh rasanya dunia makin indah yah, kalau kita saling mensupport satu sama lain, even kita belum saling mengenal.
Thanks to techology
By Silly on 05.18.09 5:44 am | Permalink
hi mbak…
*peyuk2 dulu*
lama daku gak onlen, buka YM dikasih ini. ok mbak, pengen aku copy en ngasih ke orang2 sekitar yang sering banget pake kata ini. terharu daku bacanya…
be strong mbak.
By ocha on 05.19.09 11:29 am | Permalink
[...] >>Stop menggunakan kata AUTIS utk joke sehari2.; >>Forum Autisme Indonesia; >>Kisah dari salah satu ortu anak autis. Possibly related posts: (automatically generated)Tentang saya dan jilbab bag. 2Pertanyaan tentang [...]
By ‘Autis’ itu LUCU dan GAUL katamu?! « ~NDUTYKE on 06.16.09 1:34 pm | Permalink
gitu ya mbak….ok than..
eh salam kenal y mbak… ^_^ tulisan kmu seru2..
By naanda on 06.18.09 6:17 pm | Permalink
mba sil… aku nyesek banget baca postingan kamu yang ini.. walopun blom punya anak tapi aku terharu, huhuhu
well.. aku yakin mba silly wanita yang kuat dan nyatanya memang kuat. cheers
By tya on 06.30.09 1:16 pm | Permalink
To Mrs Silly
A very touching words you wrote here. Asking a permission to post it on my facebook URL reference, may I?
Sebagai bahan pembelajaran kepada mahasiswaku bahwa kekerasan verbal itu bukanlah sesuatu yang harus dianggap sangat ringan dan diucapkan sebagai everyday “jokes on the go”
By rudy on 07.03.09 12:00 pm | Permalink
karena ada topik ttg ini di ngerumpi.com jadi mampir baca kesini deh..hihi..
salam kenal yaa…
By Astrid on 07.08.09 11:43 pm | Permalink
@ocha :
Thanks ya say. I’m strong kok. Anak saya sudah jauh lebih baik sekarang, malah lebih cerdas dari yang lain. Tapi tentu saja ini gak gampang, tiap orang tua autistik pasti sudah ngalamin yang namanya nangis2 darah…:(
at the and, semua akan memetik buah yang manis kok
@~NDUTYKE :
Tyke… apa khabar?. Thank you for the link yahhh
@naanda :
Hi naanda… salam kenal juga. Makasih yahhh udah mampir
@tya :
Iya, thanksssss…. semoga org bisa merasakan bagaimana kami menghadapi anak autistik. Sulit, tapi ini membuat kami sanggup tertawa dua kali lebih lebar dari org lain, menangis dua kali lebih hebat dari yang lain, namun bahagia… beribu kali lebih besar, dari orang lain
Makasih supportnya yahhhhh
@rudy :
Mas Rudy, minta maaf, baru bales, karena sedang sibuk. Semoga linknya sudah dipasang. Sebetulnya tidak perlu ijin, mas Rudy masang link itu aja saya sudah bersyukur Alhamdulillah puji Tuhan. Semakin banyak yang menyebarkan ini, akan semakin baik.
Makasih yahhh
@Astrid :
Salam kenal Astrid… selamat bergabung di ngerumpi.com yahhh… Senang rasanya dapat teman2 baru yang buanyakkkk banget
Makasih dear (hugggggggsss)
By Silly on 07.09.09 5:20 am | Permalink
aku dulu autis, beberapa temen ku yang dokter cuma anggep gejala schizophrenia ringan. tapi lebih banyak yang anggep aku cuma cari perhatian. No one cares.
aku dulu selalu ketakutan, pernah njerit njerit gak karuan cuma karena sendirian. padahal di dalem rumah sendiri, dan ga ada apa apa. tapi njerit sampe kepala mau pecah denger teriakan diri sendiri
aku selalu niup niup tanganku kayak orang kedinginan di kutub, padahal cuaca jakarta panas, temen temenku selalu ngeledek, bahkan ada yang tanya “kamu berapa kali sehari niup tangan?” dan aku tetep niup, sampe aku kehabisan napas, dan semua anak di kelasku ketawa.
seperti yang sering, mungkin mbak silly alami, anak suka tiba2 nangis sendiri, atau loncat2 kegirangan. aku juga gitu, aku pernah, lari lari di dalem kelas, karena excited, gembira, jam 6 pagi dan ga tau karena apa. aku ga pernah bisa komunikasi dengan baik ketika SD, lebih banyak diam, tapi aku pintar, aku tau, karena nilai matematika ku selalu paling bagus, bahkan saat itu aku lebih pintar dari guruku, karena guruku pernah kasi soal yang jawabannya salah (waktu itu masih pilihan ganda) dan semua anak mendekatiku cuma buat nyontek.
tapi selebih itu ya aku cuma buat bahan ejek ejekan.
waktu SD, sebelum ujian, aku pernah menjerit hiteris seakan stress saat mau ujian di kelas, di depan kakak kelasku, semua orang heran dan ngeliatin aku. tapi seketika aku diam, trus ngerjain soal kayak biasa, sejujurnya aku malu sama diriku sendiri, dan orang tuaku nggak se supportif mbak silly, seperti yang aku bilang, aku selalu dianggep cari perhatian, apalagi mereka selalu pergi kerja.
aku dulu bahkan punya pembantu 2, dua duanya ngelaporin “kenakalanku” mulai dari aku ga pernah bisa buang air besar di kamar mandi *selalu bab nya di depan pintu kamar mandi* bahkan sampe nyabut gigiku sendiri yang sehat. aku selalu dikurung, di pukul pake sapu, disakiti. aku ga berani buka mulut, ga berani curhat.
pokoknya aku cuma bisa nanamin ke diri aku sendiri
aku aneh
dan aku aneh yang di benci
dan kalo aku mau disukai aku ga boleh aneh
itu susah banget, kadang aku ngerasa, ada sesuatu yang bikin berdebar debar,padahal saat itu aku cuma bengong di kasur, atau saat makan, tiba tiba pengen nangis, mengharu biru, tapi sumpah itu makanan ga pedes
aku tau aku selalu kesulitan ngontrol emosi, tapi ini ga pernah ku keluarin di depan orang lain, waktuku pun lebih banyak sendirian, orang tuaku ngasih kamar yang lengkap dengan kamar mandi pribadi, ruang tivi dan komputer ples akses internet unlimited, jadi mereka bisa jarang nemui aku. aku bisa hitung, 17 jam mungkin dalam hidupku perhari ya sendirian di kamar
aku pernah coba curhat ke ibu ku, tapi tau gak, ajakan ke psikolog cuma ejekan ibuku ke aku. ibuku pernah bilang saat marah “DASAR ANAK GILA KAMU, MAU MAMA BAWA KE PSIKOLOG AJA??!!”
aku bilang “mau!”
tapi abis itu ibuku ga mau ngomong sampe 2 hari ke aku.
apa sekarang aku udah sembuh? aku gak tau, tapi aku punya teman “normal” dan dalam sejarahku aku selalu sekolah di sekolah “normal” bahkan sampe kuliah ini,
kuliah pun dulu, aku pernah di hukum, suruh teriak teriak di depan lapangan “AKU ANEH, AKU GILA!!” sama seniorku karena aku mumbling ga jelas pas upacara, dan aku ga sadar saat itu apa yang aku mumbling in.
dan ketika komunikasi, teman temanku kadang masih ga paham apa yang aku omongin, apa yang aku buat sebage joke, karena kadang ga lucu dan aku ketawa sendiri, atau aku ngomong hal yang ga nyambung sama yang lagi diomongin
tiap di tanya aku cuma bisa jawab “eng.. lagi capek, sory ga fokus”
tapi overall, setelah bertahun tahun ini, aku tau apa yang di rasakan anak2 autis itu, mereka semua ketakutan, dan mereka butuh care, percaya deh. mereka sebenernya melihat apa yang mereka lakukan, cuma mereka ga bisa ngendaliinnya.
nah buat beberapa orang yang nganggep aku schizophrenia, alasannya karena aku melihat keanehanku itu, kata mereka sih, anak autis itu harusnya gak sadar batas normal dan ga normal. tapi yah.. aku ga tau mau di bilang autis atau schizophrenia sekarang, aku berani bilang ke dunia aku ini orang normal, dan anak anak autis itu nantinya, suatu hari nanti, semoga, ga akan dianggap “aneh” lagi, tapi akan dianggap normal.
sorry kalo jadi panjang
By anonim gapapa kan? on 07.09.09 10:06 pm | Permalink
Dear Anonim:
Gapapa kok, gapapa banget. And thanks for sharing your story hear.
You know something dear. Kamu justru hebat dengan belajar mengenali apa yang tidak benar dalam diri kamu. Itu prestasi. Tidak banyak orang yang berani mengakui kalau mereka memiliki kekurangan. Umumnya orang sibuk menonjolkan kelebihan mereka masing2.
Aku sih gak berfikir apa yang kamu cerita ini sama dengan Schysprenia. Sama sekali bukan. Autism juga bukan satu hal yang tidak baik kok.
Mereka hanya sedikit “berbeda” dengan anak Neurotopical (NT) atau normal lainnya. Tapi tidak lantas membuat mereka lalu dianggap aneh dan cacat atau bahkan dianggap gila.
Tidak. Ini yang berusaha aku hilangin dari pandangan masyarakat.
Btw, boleh share gak cerita kamu di ngerumpi.com… disana kami perempuan2 muda bicara banyak hal, apa aja… termasuk salah satunya topik BlackBerry yang mengacu ke Autism… lalu muncullah topik ini lagi.
Ohya, satu lagi… aku pengen banget tukar pikiran sama kamu. Email aku dong, boleh yahhh… send it to: sillystupidlife@gmail.com
Ditunggu emailnya yahhh… nanti kita cerita2 lagi.
Ohya, satulagi… I’m very happy to read your story here. You know, ada banyak sekali anak2 autis yang brhasil ketika mereka udah dewasa. Itu karena mreka hanya focus pada apa yg mreka suka, dan terkadang justru tidak peduli pada hal lain. Anak autis umumnya pekerja yg precise, gak suka bohong karena menurut mereka bohong itu salah… mereka hanya tahu salah dan benar… dan tidak ada wilayah abu2 dalam hidup mereka.
So, I’m proud to know you.
Don’t forget to Email me, okay?
By Silly on 07.10.09 10:05 am | Permalink
[...] tidak menggunakan kata ‘AUTIS’, waktu itu yang gw pegang cuma postingan mba Silly yang ini, beberapa kisah gw quote dari situ dengan harapan bisa membantu membuka mata teman-teman yang lain [...]
By Kenapa gw PEDULI sama AUTISM? « Buka Mata Buka Telinga Mari Bicara on 07.18.09 4:18 am | Permalink
Hallo,
saya juga sedang kepikiran sama orang2 yg makin sering menggunakan kata autis seenaknya. misalnya sedang sibuk menggunakan fasilitas messenger blackberry, mereka menyebut diri mereka sendiri ‘autis’. saya ngga ngerti. saya pengen nulis ttg hal ini juga di blog saya, kalo boleh, dan diijinkan, saya ingin link postingan kamu ini, kalo nanti saya menulis di blog saya ttg masalah ‘jangan ngomong autis seenaknya ‘. Gimana, dpt excuse nya kah ??
btw, salam kenal..
By Anne on 07.31.09 10:43 pm | Permalink
@Anne:
Permission Granted!. Saya justru akan sangat sangat bahagia kalau mbak mau sukacita melakukan itu, tanpa unsur paksaan. Really-really appreciate that.
Psting ttg autism yang terkait dengan ini juga ada disini:
http://sillystupidlife.com/2009/07/09/kenapa-sih-gak-boleh-becanda-pake-kata-autis-lo/
http://sillystupidlife.com/2009/07/27/special-thanks-to-ari-dagienkz-and-tweeples/
By Silly on 07.31.09 11:15 pm | Permalink
wow… benar2 menggugah hati banget… terharu juga…
ijin buat di posting di blog-ku sama facebook ya mba… ^^
By hanik on 08.15.09 1:45 pm | Permalink
Hello,
Where are you from? Is it a secret?
Thank you
By Eremeeff on 09.02.09 2:56 pm | Permalink
Mohon izin share linknya di FB saya.
By Dian on 10.26.09 4:08 pm | Permalink
Hi Sil, udah ketinggalan kereta kali nih sy (khakakak……), tapi boleh gak image/banner stop autism nya sy taro di blog sy? Thanks ya, cantik.
By eline on 12.10.09 9:03 am | Permalink
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>